Kesaksianku

June 9, 2008

Buta….Menangkan Banyak Jiwa

Filed under: Uncategorized

Nama saya Made Irawan, lahir tepat pada tanggal 17 Agustus 1963 di sebuah kampung kecil di pulau Bali yang jauh dari keramaian kota. Menurut cerita ayah saya, sejak kecil saya itu sering sakit-sakitan, yang sakit panaslah, cacingan, atau insomnia.

Namun ayah saya sangat bangga punya anak lelaki, tak kenal lelah terus memperjuangkan saya, anak lelaki satu-satunya yang menurut adat Bali adalah yang mewarisi dan dapat meneruskan leluhurnya supaya saya bisa hidup dengan sehat.

Dan menjadi impian ayah saya untuk saya bisa hadir dalam keluarga meneruskan garis keturunan leluhurnya. Sudah banyak harta dihabiskan baik itu ternak maupun sawah guna memperjuangkan kesembuhan saya.

Tapi semua harapan ayah saya menjadi sirna, tahun 1974 bukannya saya sembuh, malah menjadi buta. Dalam istilah Bali, kalau menderita buta itu sama artinya dengan neraka dan perjalanan hidup saya di kampung sungguh membuat saya menjadi minder dan kecil. Ketika saya jalan sambil meraba-raba dengan tongkat, orang banyak berkata, “Kamu buta ya…!” Orang lain bisa beraktivitas, tetapi saya tidak bisa apa-apa. Seringkali saya merenung, kalau saya buta begini, sebenarnya kesalahan siapa? Banyak orang berkata waktu itu, bahwa semuanya itu karena suatu karma dari leluhur yang berbuat dosa dan bila saya berbuat dosa pula, maka nasib hidup saya akan bertambah.

Mendengar semua itu, hati saya menjadi bertambah takut, tidak memiliki pengharapan lagi. Menjadi orang buta saja sudah susah, apalagi akan bisa menjadi bermacam-macam rupa jelek. Tahun 1978 saya mendengar di Denpasar ada sekolah khusus untuk tuna netra. Semangat tumbuh kembali dari selama empat tahun hidup dalam tertekan. Singkat kata, saya dibantu kepala desa saya agar saya bisa masuk ke sekolah tersebut, dan ketika saya pamiy dengan ayah saya, jawabannya sungguh sederhana tapi cukup menyedihkan buat saya, “Silahkan masuk ke sekolah tersebut, sebab sekalipun di rumah sepertinya punya anak yang sudah mati, kalaupun di sekolah nanti kamu mati ya itulah jalan hidupmu.” Dikatakan bahwa tidak ada lagi kebanggaan punya anak seperti saya.

Akhirnya dengan diantar oleh aparat desa, saya masuk ke sekolah tuna netra tersebut. Ternyata di sekolah tersebut ada banyak orang yang tidak bisa melihat, jumlahnya kurang lebih ada 100 orang. Dan akhirnya di sekolah itu saya dapat mengerti akan hidup ini dan tidak berputus asa seperti dahulu yang sempat muncul untuk bunuh diri.

Di sekolah itu saya banyak diajar banyak hal, mulai cuci piring, menyampu, belajar membaca dengan huruf brailley. Sudah matanya buta, buta huruf lagi. Di sekolahan itu juga sering mendapat kunjungan dari orang-orang Kristen hampir tiap bulan. Biasanya mereka mengajak doa, dibacakan firman Tuhan, dan setelah itu diberi bingkisan.

Tahun 1985 saya selesai belajar dan sudah memiliki ketrampilan pijat kesehatan, tetapi saya tidak puas kalau hanya di Bali saja, saya ingin keluar dari Bali. Sampailah saya di Pemalang untuk memperdalam ilmu pijat kesehatan selama dua tahun sampai akhirnya saya ke Jakarta. Di Jakarta saya bertekad untuk mencari gereja, sebab di Pemalang waktu sekolah lagi itu juga mendapat kunjungan dari orang-orang Kristen yang membuat saya tertarik.

Tahun 1986 saya menikah dengan seorang wanita Betawi. Pada 5 Desember 1987 saya dibaptis di Jakarta dan satu tahun kemudian istri saya juga dibaptis pada tanggal 31 Desember 1988. Saya mengambil keputusan bukan hanya sekedar dibaptis menjadi orang Kristen saja, tetapi saya akan belajar mendalami kursus-kursus Alkitab. Satu tahun ikut kursus Alkitab dan saya teruskan dengan belajar di Sekolah Tinggi Injili Indonesia.

Tahun 1990 saya sudah terlibat dalam suatu pelayanan, penginjilan, dan pemenangan jiwa-jiwa. Mulai 1990-1998 kurang lebih 200 KK yang dibaptis melalui pelayanan saya. Kerinduan saya ke depan adalah dapat lebih menjangkau para tuna netra untuk dapat lebih maju dan berkembang di dalam kasih Kristus.

Sumber : Pdm. Made Irawan (ditulis di Suara Pelayanan Edisi November-Desember 2007)

Kesaksian Jim Caviezel, Pemeran Yesus Dalam The Passion Of Jesus Christ

Filed under: Uncategorized

Kesaksian Jim Caviezel, Pemeran Yesus Dalam The Passion Of Jesus Christ

Jim Caviezel adalah seorang aktor biasa dengan peran-peran kecil dalam film-film yang juga tidak besar. Peran terbaik yang pernah dimilikinya adalah sebuah film perang yang berjudul “The Thin Red Line” yang mana dia hanya memerankan salah satu tokoh dari begitu banyaknya aktor besar yang berperan dalam film kolosal itu. Dalam Thin Red Line, Jim berperan sebagai prajurit yang berkorban demi menolong teman-temannya yang terluka dan terkepung musuh, ia berlari memancing musuh kearah yang lain walaupun ia tahu ia akan mati, dan akhirnya musuhpun mengepung dan membunuhnya. Kharisma kebaikan, keramahan, dan rela berkorbannya ini menarik perhatian Mel Gibson, yang sedang mencari aktor yang tepat untuk memerankan konsep film yang sudah lama disimpannya, menunggu orang yang tepat untuk memerankannya.


Dan inilah kesaksian Jim Caviezel. pemeran Yesus dalam film "The Passion Of Jesus Christ" …

"Saya terkejut suatu hari dikirimkan naskah sebagai peran utama dalam sebuah film besar. Belum pernah saya bermain dalam film besar apalagi sebagai peran utama. Tapi yang membuat saya lebih terkejut lagi adalah ketika tahu peran yang harus saya mainkan. Ayolah…, Dia ini Tuhan, siapa yang bisa mengetahui apa yang ada dalam pikiran Tuhan dan memerankannya? Mereka pasti bercanda. Besok paginya saya mendapat sebuah telepon, "Hallo ini, Mel". Kata suara dari telpon tersebut. "Mel siapa?", Tanya saya bingung. Saya tidak menyangka kalau itu Mel Gibson, salah satu aktor dan sutradara Hollywood yang terbesar. Mel kemudian meminta kami bertemu, dan saya menyanggupinya. Saat kami bertemu, Mel kemudian menjelaskan panjang lebar tentang film yang akan dibuatnya. Film tentang Tuhan Yesus yang berbeda dari film-film lain yang pernah dibuat tentang Dia. Mel juga menyatakan bahwa akan sangat sulit dalam memerankan film ini, salah satunya saya harus belajar bahasa dan dialek alamik, bahasa yang digunakan pada masa itu.
Dan Mel kemudian menatap tajam saya, dan mengatakan sebuah resiko terbesar yang mungkin akan saya hadapi. Katanya bila saya memerankan film ini, mungkin akan menjadi akhir dari karir saya sebagai aktor di Hollywood. Sebagai manusia biasa saya menjadi gentar dengan resiko tersebut. Memang biasanya aktor pemeran Yesus di Hollywood, tidak akan dipakai lagi dalam film-film lain. Ditambah kemungkinan film ini akan dibenci oleh sekelompok orang Yahudi yang berpengaruh besar dalam bisnis pertunjukan di Hollywood sehingga habislah seluruh karir saya dalam dunia perfilman.

Dalam kesenyapan menanti keputusan saya apakah jadi bermain dalam film itu, saya katakan padanya. "Mel apakah engkau memilihku karena inisial namaku juga sama dengan Jesus Christ (Jim Caviezel), dan umurku sekarang 33 tahun, sama dengan umur Yesus Kristus saat Ia disalibkan?" Mel menggeleng setengah terperengah, terkejut, menurutnya ini menjadi agak menakutkan. Dia tidak tahu akan hal itu, ataupun terluput dari perhatiannya. Dia memilih saya murni karena peran saya di "Thin Red Line". Baiklah Mel, aku rasa itu bukan sebuah kebetulan, ini tanda panggilanku, semua orang harus memikul salibnya. Bila ia tidak mau memikulnya maka ia akan hancur tertindih salib itu. Aku tanggung resikonya, mari kita buat film ini! Maka saya pun ikut terjun dalam proyek film tersebut. Dalam persiapan karakter selama berbulan-bulan saya terus bertanya-tanya, dapatkah saya melakukannya? Keraguan meliputi saya sepanjang waktu. Apa yang seorang Anak Tuhan pikirkan, rasakan, dan lakukan. Pertanyaan-pertanyaan tersebut membingungkan saya, karena begitu banyak referensi mengenai Dia dari sudut pandang berbeda-beda. Akhirnya hanya satu yang bisa saya lakukan, seperti yang Yesus banyak lakukan yaitu lebih banyak berdoa. Memohon tuntunanNya melakukan semua ini. Karena siapalah saya ini memerankan Dia yang begitu besar. Masa lalu saya bukan seorang yang dekat dalam hubungan denganNya. Saya memang lahir dari keluarga Katolik yang taat, kebiasaan-kebiasaan baik dalam keluarga memang terus mengikuti dan menjadi dasar yang baik dalam diri saya. Saya hanyalah seorang pemuda yang bermain bola basket dalam liga SMA dan kampus, yang bermimpi menjadi seorang pemain NBA yang besar. Namun cedera engkel menghentikan karir saya sebagai atlet bola basket. Saya sempat kecewa pada Tuhan, karena cedera itu, seperti hancur seluruh hidup saya. Saya kemudian mencoba peruntungan dalam audisi-audisi, sebuah peran sangat kecil membawa saya pada sebuah harapan bahwa seni peran mungkin menjadi jalan hidup saya. Kemudian saya mendalami seni peran dengan masuk dalam akademi seni peran, sambil sehari-hari saya terus mengejar audisi. Dan kini saya telah berada dipuncak peran saya. Benar Tuhan, Engkau yang telah merencanakan semuanya, dan membawaku sampai disini. Engkau yang mengalihkanku dari karir di bola basket, menuntunku menjadi aktor, dan membuatku sampai pada titik ini. Karena Engkau yang telah memilihku, maka apapun yang akan terjadi, terjadilah sesuai kehendakMu.

Saya tidak membayangkan tantangan film ini jauh lebih sulit dari pada bayangan saya. Di make-up selama 8 jam setiap hari tanpa boleh bergerak dan tetap berdiri, saya adalah orang satu-satunya di lokasi syuting yang hampir tidak pernah duduk.. Sungguh tersiksa menyaksikan kru yang lain duduk-duduk santai sambil minum kopi. Kostum kasar yang sangat tidak nyaman, menyebabkan gatal-gatal sepanjang hari syuting membuat saya sangat tertekan. Salib yang digunakan, diusahakan seasli mungkin seperti yang dipikul oleh Yesus saat itu. Saat mereka meletakkan salib itu di pundak saya, saya kaget dan berteriak kesakitan, mereka mengira itu akting yang sangat baik, padahal saya sungguh-sungguh terkejut. Salib itu terlalu berat, tidak mungkin orang biasa memikulnya, namun saya mencobanya dengan sekuat tenaga. Yang terjadi kemudian setelah dicoba berjalan, bahu saya copot, dan tubuh saya tertimpa salib yang sangat berat itu. Dan sayapun melolong kesakitan, minta pertolongan. Para kru mengira itu akting yang luar biasa, mereka tidak tahu kalau saya dalam kecelakaan sebenarnya. Saat saya memulai memaki, menyumpah dan hampir pingsan karena tidak tahan dengan sakitnya, maka merekapun terkejut, sadar apa yang sesungguhnya terjadi dan segera memberikan saya perawatan medis. Sungguh saya merasa seperti setan karena memaki dan menyumpah seperti itu, namun saya hanya manusia biasa yang tidak biasa menahannya. Saat dalam pemulihan dan penyembuhan, Mel datang pada saya. Ia bertanya apakah saya ingin melanjutkan film ini, ia berkata ia sangat mengerti kalau saya menolak untuk melanjutkan film itu. Saya bekata pada Mel, saya tidak tahu kalau salib yang dipikul Tuhan Yesus seberat dan semenyakitkan seperti itu. Tapi kalau Tuhan Yesus mau memikul salib itu bagi saya, maka saya akan sangat malu kalau tidak memikulnya walau sebagian kecil saja. Mari kita teruskan film ini. Maka mereka mengganti salib itu dengan ukuran yang lebih kecil dan dengan bahan yang lebih ringan, agar bahu saya tidak terlepas lagi, dan mengulang seluruh adegan pemikulan salib itu. Jadi yang penonton lihat didalam film itu merupakan salib yang lebih kecil dari aslinya. Bagian syuting selanjutnya adalah bagian yang mungkin paling mengerikan, baik bagi penonton dan juga bagi saya, yaitu syuting penyambukan Yesus. Saya gemetar menghadapi adegan itu, Karena cambuk yang digunakan itu sungguhan. Sementara punggung saya hanya dilindungi papan setebal 3 cm. Suatu waktu para pemeran prajurit Roma itu mencambuk dan mengenai bagian sisi tubuh saya yang tidak terlindungi papan. Saya tersengat, berteriak kesakitan, bergulingan ditanah sambil memaki orang yang mencambuk saya. Semua kru kaget dan segera mengerubungi saya untuk memberi pertolongan. Tapi bagian paling sulit, bahkan hampir gagal dibuat yaitu pada bagian penyaliban. Lokasi syuting di Italia sangat dingin, sedingin musim salju, para kru dan figuran harus manggunakan mantel yang sangat tebal untuk menahan dingin. Sementara saya harus telanjang dan tergantung diatas kayu salib, diatas bukit yang tertinggi disitu. Angin dari bukit itu bertiup seperti ribuan pisau menghujam tubuh saya. Saya terkena hypothermia (penyakit kedinginan yang biasa mematikan), seluruh tubuh saya lumpuh tak bisa bergerak, mulut saya gemetar bergoncang tak terkendalikan. Mereka harus menghentikan syuting, karena nyawa saya jadi taruhannya. Semua tekanan, tantangan, kecelakaan dan penyakit membawa saya sungguh depresi. Adegan-adegan tersebut telah membawa saya kepada batas kemanusiaan saya. Dari adegan-keadegan lain semua kru hanya menonton dan menunggu saya sampai pada batas kemanusiaan saya, saat saya tidak mampu lagi baru mereka menghentikan adegan itu. Ini semua membawa saya pada batas-batas fisik dan jiwa saya sebagai manusia. Saya sungguh hampir gila dan tidak tahan dengan semua itu, sehingga seringkali saya harus lari jauh dari tempat syuting untuk berdoa. Hanya untuk berdoa, berseru pada Tuhan kalau saya tidak mampu lagi, memohon Dia agar memberi kekuatan bagi saya untuk melanjutkan semuanya ini. Saya tidak bisa, masih tidak bisa membayangkan bagaimana Yesus sendiri melalui semua itu, bagaimana menderitanya Dia. Dia bukan sekedar mati, tetapi mengalami penderitaan luar biasa yang panjang dan sangat menyakitkan, bagi fisik maupun jiwaNya. Dan peristiwa terakhir yang merupakan mujizat dalam pembuatan film itu adalah saat saya ada diatas kayu salib. Saat itu tempat syuting mendung gelap karena badai akan datang, kilat sambung menyambung diatas kami. Tapi Mel tidak menghentikan pengambilan gambar, karena memang cuaca saat itu sedang ideal sama seperti yang seharusnya terjadi seperti yang diceritakan. Saya ketakutan tergantung diatas kayu salib itu, disamping kami ada dibukit yang tinggi, saya adalah objek yang paling tinggi, untuk dapat dihantam oleh halilintar. Baru saja saya berpikir ingin segera turun karena takut pada petir, sebuah sakit yang luar biasa menghantam saya beserta cahaya silau dan suara menggelegar sangat kencang. Dan sayapun tidak sadarkan diri. Yang saya tahu kemudian banyak orang yang memanggil-manggil meneriakkan nama saya, saat saya membuka mata semua kru telah berkumpul disekeliling saya, sambil berteriak-teriak "dia sadar! dia sadar!".
"Apa yang telah terjadi?" Tanya saya. Mereka bercerita bahwa sebuah halilintar telah menghantam saya diatas salib itu, sehingga mereka segera menurunkan saya dari situ. Tubuh saya menghitam karena hangus, dan rambut saya berasap, berubah menjadi model Don King. Sungguh sebuah mujizat kalau saya selamat dari peristiwa itu. Melihat dan merenungkan semua itu seringkali saya bertanya, "Tuhan, apakah Engkau menginginkan film ini dibuat? Mengapa semua kesulitan ini terjadi, apakah Engkau menginginkan film ini untuk dihentikan"? Namun saya terus berjalan, kita harus melakukan apa yang harus kita lakukan. Selama itu benar, kita harus terus melangkah. Semuanya itu adalah ujian terhadap iman kita, agar kita tetap dekat padaNya, supaya iman kita tetap kuat dalam ujian. Orang-orang bertanya bagaimana perasaan saya saat ditempat syuting itu memerankan Yesus. Oh… itu sangat luar biasa… mengagumkan… tidak dapat saya ungkapkan dengan kata-kata. Selama syuting film itu ada sebuah hadirat Tuhan yang kuat melingkupi kami semua, seakan-akan Tuhan sendiri berada disitu, menjadi sutradara atau merasuki saya memerankan diriNya sendiri.

Itu adalah pengalaman yang tak terkatakan. Semua yang ikut terlibat dalam film itu mengalami lawatan Tuhan dan perubahan dalam hidupnya, tidak ada yang terkecuali. Pemeran salah satu prajurit Roma yang mencambuki saya itu adalah seorang muslim, setelah adegan tersebut, ia menangis dan menerima Yesus sebagai Tuhannya. Adegan itu begitu menyentuhnya. Itu sungguh luar biasa. Padahal awalnya mereka datang hanya karena untuk panggilan profesi dan pekerjaan saja, demi uang.. Namun pengalaman dalam film itu mengubahkan kami semua, pengalaman yang tidak akan terlupakan. Dan Tuhan sungguh baik, walaupun memang film itu menjadi kontroversi. Tapi ternyata ramalan bahwa karir saya berhenti tidak terbukti. Berkat Tuhan tetap mengalir dalam pekerjaan saya sebagai aktor. Walaupun saya harus memilah-milah dan membatasi tawaran peran sejak saya memerankan film ini. Saya harap mereka yang menonton The Passion Of Jesus Christ, tidak melihat saya sebagai aktornya. Saya hanyalah manusia biasa yang bekerja sebagai aktor, jangan kemudian melihat saya dalam sebuah film lain kemudian mengaitkannya dengan peran saya dalam The Passion dan menjadi kecewa. Tetap pandang hanya pada Yesus saja, dan jangan lihat yang lain. Film itu telah menyentuh dan mengubah hidup saya, saya berharap juga hal yang sama terjadi pada hidup anda. Amin.

Sumber : dari forward email

June 8, 2008

Filed under: Uncategorized

MAJU TERUS…..!!!!emoticon

 

Aku seorang cewek,10 tahun,suka gulat,membangun rumah di atas pohon dn sering menghabiskan waktu bersama teman-temanku,seperti yang baru saja kulakukan di malam yang telah mengubah hidupku menjadi tidak akan pernah sama dengan sebelumnya.

Aku dan kakak perempuanku,Tiffany,kelelahan setelah bers-skate sepanjang malam.Kami tertidur di kursi belakang mobil ami,yang dikendarai oleh Mom.

 

Saat terbangun,aku berada di rumah sakit.Dan sepertinya saat itulah saat di mana hidupku berubah sangat drastic.Aku masih belum sadar apa yang telah terjadi,tetapi aku diberi tahu bahwa tulang pungungku patah dan susunan sarafku rusak,sehingga aku akan mengunakan kusi roda seumur hidupku.Kakakku mengalami patah dua kaki dan sebelah tangannya,sedangkan ibuku mengalami beberapa patah tulang.Tapi itu semua belum apa-apa,ibuku diduga menyetir dalam keadaan mabuk malam itu.Polisi bilang ia tertidur saat mengemudi dan menabrakkan mobil ke pohon dalam kecepatan 100km/jam.

 

Selama dirawat di rumah sakit ibuku menjalani proses pengadilan dan dijatuhi 3 tahun penjara dan kehilanan hak asuhnya.Pengadilan memutuskan untuk mencari ayahku namun rupanya ia pun sedang menjalani hukuman 25 tahun penjara.Setelah 5 bulan aku di rumah sakit aku diasuh oleh orang tua yang telah lebih dulu mengasuh Tiffany,namun tiba-tiba setelah beberapa saat kami diserahkan kepada seorang wanita bernama Paula,yang paling tidak membuat hidup kami sedikit membaik,meski hanya sementara karena setelah itu kami terpisah dan diasuh oleh keluarga yang berbeda.

 

Sue dan Chris,ibu dan ayah angkatku memiliki 2 anak laki-laki,Daniel dan Josh yang otomatis menjadi saudaraku.Melalui Sue yang bekerja sebagai perawat,aku disupport untuk menjalani terapi fisik,namun setelah beberapa kali mencoba dan hasilnya nol,aku merasa bahwa aku harus menerima keadaanku saat ini dan menyadari bahwa aku takkan pernah menjadi seperti aku yang dulu.Sejak itu,aku mulai berpikir apa yang dapat kulakukan dengan kursi roda ini hingga aku memutuskan untuk bergabung dengan tim bola basket berkursi roda dan segera aku disibukkan dengan berbagai turnamen sampai ke Negara-negara bagian dan aku sangat bahagia.

 

Kadang aku berandai apa jadinya jika malam itu Mom tidak mabuk sehingga tidak terjadi kecelakaan.Namun segera kutepis itu semua dan aku pun bersyukur,karma yang aku tahu hidup ini selalu berubah dan aku pun takkan pernah menjadi diriku yang sebelumnya,jadi yang harus kulakukan adalah maju terus.Karena sekaran perubahan itu bergantung di tanganku,apakah aku memilih untuk menesali diri dan ingin kembali seperti diriku yang dulu atau aku mau menikmati setiap perubahan yang ada dan menganggap itu sebagai sebuah proses untuk menjadikan semakin serupa dengan Tuhan Penciptaku.

(LLa,Chicken Soup for the Preteen Soul2,dengan berbagai perubahan)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Naoko M